Thursday, 18 November 2021

Permainan

Hidup adalah masalah kita, dan kita terkait dengan bahasa, karena memang ekspresi kehidupan diekspresikan dalam tata bahasa. Itulah alasan Wittgenstein mengurusi yang ia sebut permainan bahasa.

Bahasa dan permainan (praktiknya), bertujuan untuk mencapai logika kognitif sehingga poin yang akan ditekankan adalah sebuah aturan konsistensi praktik kehidupan yang terdapat dalam beberapa paradigma teoritis; kredo, cita cita, dan nilai.

Paradigma itu diatur sedemikian rupa menggunakan permainan bahasa sebagai modal tercapainya, jadi yang tidak diharapkan; bentuk diskonfirmasi keyakinan, kepatuhan pada hal yang terinduksi, pilihan bebas, dan upaya sebagai yang benar, dimana kesemuanya masing-masing menjelaskan apa yang terjadi setelah seseorang bertindak tidak konsisten dan relatif terhadap intelektualitas hidup mereka.

Dalam hal ini, dalam perjalanan bahasa (hidup), orang-orang cendereng berinvestasi dalam perspektif tertentu harus dihadapkan dengan bukti yang menantang tantangan besar untuk mempertahankan perspektif sebelumnya diinvestasikan.

Dan memang pada praktiknya, segala sesuatu dapat dibuat sesuai dengan aturan, maka dapat dibuat juga bertentangan dengannya. Sebuah paradoks yang terus didialektikakan, selalu melahirkan batasan, dan disonansi kognisi. Lalu, salahkah pada aturan dalam bahasa yang telah dibuat dan dengan demikian adanya?

Sebenarnya, di sini adalah terkait dengan interpretasi. Sebab bahasa akan dan harus terkait dengan makna. Itulah bahasan ini tidak kunjung selesai. Dan itulah juga David Stern, kemudian menyebut pandangan Wittgenstein awal tentang logika, bahasa, metode "atomisme logistik" dan "holisme praktis", kemudian dirangkum menjadi "holisme logistik". Antara atomisme logistik dan holisme praktis memudahkan jurang pemisah yang drastis, jurang tentang persepsi dan pemahaman.

Oleh karena itu, dan tanpa klaim sebagai kesimpulan, menyimpulkan sebagai transisi komprehensif yang menuju pada pandangan "antropologis" yang terus berkembang dan berkembang, sehingga diskusi-diskusi yang berhubungan dengan objektivitas vs subjektivitas, konsepsi vs persepsi, dan psikologi vs epistemologi terus juga berjalan.

Itulah alasan mengapa bahasa dan permainannya menjadi sarat konteks antropologis serta otomatisasi universalisme dogmatik dan perilaku formalistik di berbagai aspek.

Seperti contoh; kita semua mencari kunci rahasia menuju kebahagiaan, dimana hal itu adalah satu-satunya hal yang benar-benar yang akan mewujudkan keinginan-keinginan kita dalam hidup. Pandangan yang rahasia adalah persepsi dan bahasa "bahagia" adalah intepretasi penuh bias; yang mungkin di dalamnya tersimpan disjungsi, paradoksial, dan visi yang masih belum jelas.

Contoh yang lebih konkrit yang akan saya sampaikan daripada bertele-tele menjelaskan seperti di atas adalah tentang "cinta-benci" atau kasih sayang-kebencian. Di mana kita sering mematerialkan (salah satu cara bermain) di sebuah bahasa ke dalam praktik antropologis. Bisa dengan memaknainya sebagai perbedaan materi, sehingga bahasa love and hate adalah jika kita merasa bahagia secara intepretatif itu sedang dalam kasih sayang. Sedangkan ketika konflik menjadi bagian dari kebencian.

Itulah alasan mengapa abad 20 itu Wittgenstein memaparkan "investigasi" secara filosofis dalam permainan bahasa yang menjadi terapan. Dalam hal ini mungkin bingung, cinta-hate, sebaliknya, materi, melainkan prinsipal, yang setelah diinvestigasi tersimpan hal yang berasal dari intepretasi abs taks terkait dengan bagaimana kita bulat memaknainya sebagai hal yang tidak terkait dan konflik atau mengecewakan, melainkan kecerdasan penalaran kita bisa memutuskan keputusan untuk mengambil resiko tetap konsisten atau sebaliknya, inkonsistensi. Inilah permainan. [k]

Thursday, 6 December 2018

Brutal



Bagi saya, tak ada yang lebih penting dalam hidup beragama dan berbangsa kini adalah memasung suatu hal di kepala saya, bahwa al-Qur'an dan ideologi lima sila itu bukan buku pedoman dan jalan untuk sebuah perusakan, kekacauan dan sifat brutal.

Brutal berbeda dengan anarkis, terlepas dari keyakinan makna dan definisi. Anarkis dijelaskan ensiklopedi sebagai ideologi tanpa pemerintahan. Dalam artian sebagaimana Godwin, keadilan dan kesetaraan itu akan susah melalui pemerintah.

Orang-orang Samin melalui 'disobey' nya yang tidak mau membayar pajak, Samin berideologi tapi tak melepaskan diri menjadi manusia yang melangkahkan kaki bersama manusia, hanya mengisolasi dari pemerintahan. Ajaran Samin tak mau merusak.

Sedang, Brutalis pun lahir bersama kesepakatan. Bicara kemajuan dan katanya belajar dari sejarah untuk masa depan. Berjalan seperti menganggap dirinya manusia dan bagian dari pemerintahan berbicara kemajuan dan politik.

Brutalis bukan lagi adjektiva individu di sepanjang perjalanan dan jalannya sejarah bangsa kini. Lepas dari adjectiva menjadi verba yang menggoyang visi "merdeka untuk".

Perkumpulan brutal tumbuh subur bersama intrik yang dianutnya. Bahkan kini kita sedang diberi tontonan, atau bahkan bagian dari mengalami suatu zaman dimana benci dan kekerasan menjadi iklan yang renyah dimakan.

Di simbol-simbol kemajuan zaman, setiap hari kita dipertontonkan kepalsuan yang diamini jadi yang benar. Yang semuanya lahir dari pertandingan perebutan.

Ayat 60 dari Surat Al-Anfal dipakai dimana-mana, ditampilkan sebagai iklan untuk menghimpun dan ajakan pesta surga. Namun sayangnya, selanjutnya perintah Allah itu dijadikan kekuatan dan mendatangkan rasa takut ke hati musuh pertandingannya.

Begitu kiranya wajah bangsa yang diisi para brutalis. Soal visi kemerdekaan tidak lagi tepat untuk dibincangkan karena akan dipaksa ditutupi adjectiva brutal

Terntang cinta di bumi pertiwi ini yang pernah menjadi sejarah adalah saat ingin keluar dari penjajahan dan beberapa waktu setelah perebutan kata "merdeka dari". Durruti pernah bilang, "Terkadang cinta hanya dapat berbicara melalui selongsong senapan."

Ya, kita ikuti bersama perjalanan ini. Toh umur kita tidak sampai satu abad lamanya.

Pernah ada analisa bahwa peradaban ini ada hubungannya dengan Socrates yang mengajari bertanya untuk tahu dari ketidaktahuan. Namun setelah tahu, ego, ambisi, dan kebinatangan bukan hanya satu orang. Tapi seriang diri dari bagian sosial sangan rentan untuk brutal.

Wednesday, 5 December 2018

Ayo!



Ayo! tapi yang bukan 'ayo' lirik lagu dan rayu belaka. Tapi 'Ayo' pada yang tak terbatas.

Chairil si binatang jalang itu jasadnya telah terkubur di usianya yang ke 26 tahun. Tapi suaranya masih ada di lembah-lembah dan langit negeri yang lahir dari darah yang ada di ujung runcing bambu hampir seabad lalu.

Chairil terlalu berani membuat perjanjian dengan Bung Karno. Tapi Chairil memang seperti tak kenal 'cemas' pada 'hari'. Hari yang dengan esok akan ada cerita yang beda dengan hari ini.

Chairil muda pernah larut dalam Api dan laut Soekarno 1948 tiga tahun setelah merdeka. Sehingga ia membuat perjanjian di dalam puisinya;

Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji 
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu dipanggang diatas apimu, digarami lautmu 
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945 
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu 
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat 
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar 
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak dan berlabuh

(1948)

Chairil telah menjadi Chairil hingga kini. Dan "Ayo!" apinya masih membara dan lautnya masih abadi dengan garang ombaknya usia muda Chairil dalam membaca hari.

Bicara tentang sikap dan api di dalamnya seperti Chairil dan Bung Karno, menarik juga untuk membaca simbol yang terlihat tak sempurna tapi berani bersikap yang tidak sederhana. Gus Dur, kita sama-sama mengenalnya.

Gus Dur menjangkau, melintasi gerbang dan pagar, jadi tak berhingga, untuk menjabat tangan mere­ka yang diasingkan di luar meski di dalam itu. Bisa ditarik kemungkinan bahwa ini tentang kecil atau besarnya api iman.

Iman bagi Gus Dur bukanlah sebuah benteng-benteng kokoh dan tertutup, yang dilengkapi senjata, untuk menangkis segala hal yang diasumsikan sebagai musuh.

Iman bagi Gus Dur adalah sebuah obor yang dibawa di dalam pendakian dan gelap jalanan. Sebagai suluh adalah tatkala seorang yang beriman tak takut menemui yang berbeda dan yang tak terduga.

Gus Dur berani membawa obor di lapangan yang sekian lama haram untuk dipasang lampu. Gus Dur seperti berkata; Ayo! jangan buta! sebab Islam datang sebagai jalan dan penerang.

"Ayo!" Chairil, Bung Karno, Gus Dur bukan main-main. Dan kini, kita sedang hidup bersama suara "Ayo!" tapi ternyata itu ajakan jual beli dan tentang komoditi. Entah kemana "Ayo!" tiga orang tanpa batas itu kini sembunyi.

Ayo Chairil, Bung, Gus, bagaimana kalau kita buat perjanjian?

Dewi


Dewi telah terbawa diri terbang ke Jepang, dengan bukan menjadi seperti Dewi yang dikenal orang. Dewi harus memutus sayap puja pujinya untuk membela suaminya, Bung Karno putra sang fajar.

Hari terakhir bulan September dan tragedi zaman itu telah terjadi. Bung Karno si putra sang fajar kelimpungan. Dan pidato-pidatonya tidak lagi menjadi mantra-mantra sakti di telinga bangsanya. Sukarno harus bersalah dan diasingkan.

Ratna Sari Dewi, Geisha berparas menawan asal Jepang yang diperistri pemimpin besar revolusi itu telah benar-benar melakukan upaya rekonsiliasi politik untuk konflik suaminya dengan Jendral Angkatan Darat.

Aiko Kurasawa, penulis asal Jepang itu bercerita kalau Dewi menemui Perdana Menteri Sato pada 6 Januari 1966 untuk meminta dukungan bagi suaminya. Namun, Jepang memutuskan untuk berada di sisi Jendral.

Usaha demi usaha dilakukan. Tapi zaman telah menentukan ceritanya sendiri tanpa bisa dimakan buas pidato Bung Karno yang bak Singa.


20 Maret 1966, Dewi bermain golf dengan lawan suaminya, Jendral Suharto. Sang Jendral menawarkan tiga opsi untuk nasib suaminya.

Pertama, pergi ke luar negeri untuk beristirahat. Kedua, tetap tinggal sebagai presiden sebulan saja. Ketiga, mengundurkan diri secara total.

Jendral Suharto merekomendasikan opsi pertama untuk bisa dipilih untuk peristirahatan putra sang fajar. Jepang dan Mekkah menjadi opsi negara pilihan. Dewi sadar seketika bahwa ia dan suaminya telah kalah setelah perundingan dengan Jendral di lapangan golf itu.

Tahun-tahun itu adalah manifestasi untuk Dewi. Sebagai bukti Dewi sang First Lady yang cantik menawan itu pun bisa melawan.

Dan Jendral besar yang akhirnya 30 tahun selanjutnya menjadi raja pertiwi dipaksa oleh keadaan untuk mengakui kekuatan wanita mantan Geisha.

Dewi dan usaha rekonsiliasi. Semut akan marah kalau kaki akan menginjaknya. Semut berani melawan Gajah. Dewi tidak bisa dilihat sebelah mata sebagai bunga saja.


Monday, 3 December 2018

Makna


"Terserang sindrom rasa cemas kepada makna, karena makna tak dikuasai lagi."

Bahwa pernah ada hiperbola seperti itu. Sehingga semakin kesini, kata menjadi lebih rumit dari angka di rumus matematika. Belum lagi bicara kalimat.

Datang benar waktunya, yang menyebutnya "dewasa" kadang yang terbaca hanya "dewa" saja. Semua tangan bisa menuliskan kata dan kalimat. disebarkan menjadi perang menjadi api.

Awal Desember pun tiba. Hujan bulan ini pun masing terngiang di lagu-lagu indie merdu di telinga di pagi buta. Dan yang menarik di dunia kata, koran-koran di negeri serba kesepakatan diserang dengan kalimat pertanyaan "mengapa ada sebuah maklumat yang dihadiri jutaan massa tidak jadi headline?".

Kita sedang duduk di panggung suka dan tidak suka. yang di dalamnya telah pula disepakati perserikatan yang punya aturan dan kuasa-atas-besok seperti apa dibawah baju kepentingannya.

Saat diblow up bahwa "Pers independent" seharusnya tahu bahwa itu dialog era 60-an. Toh yang blow up sadar atau tidak adalah bagian dari perserikatan suka dan tidak suka dibalik payung kesepakatan.

Rasa-rasanya pengen tertawa saja. Lalu jika sampai perserikatan koran-koran diserang dalam hal headline, entah amnesia atau apa. Tak perlu lagi ditulis ulang kata kunci "barisan angka 0" bukan?

Seorang penulis sedang menulis di negeri tawar menawar dan kesepakan setiap pukul 6 pagi setelah mata lelah membaca hari melalui kalimat yang sedikit berlebihan, mencoba meyakinkan diri dan pembacanya bahwa bahasa harus diberi tenaga ekstra, agar sedikit kembali berarti. Berharap tak jadi ambisi.