Hidup adalah masalah kita, dan kita terkait dengan bahasa, karena memang ekspresi kehidupan diekspresikan dalam tata bahasa. Itulah alasan Wittgenstein mengurusi yang ia sebut permainan bahasa.
Bahasa dan permainan (praktiknya), bertujuan untuk mencapai logika kognitif sehingga poin yang akan ditekankan adalah sebuah aturan konsistensi praktik kehidupan yang terdapat dalam beberapa paradigma teoritis; kredo, cita cita, dan nilai.
Paradigma itu diatur sedemikian rupa menggunakan permainan bahasa sebagai modal tercapainya, jadi yang tidak diharapkan; bentuk diskonfirmasi keyakinan, kepatuhan pada hal yang terinduksi, pilihan bebas, dan upaya sebagai yang benar, dimana kesemuanya masing-masing menjelaskan apa yang terjadi setelah seseorang bertindak tidak konsisten dan relatif terhadap intelektualitas hidup mereka.
Dalam hal ini, dalam perjalanan bahasa (hidup), orang-orang cendereng berinvestasi dalam perspektif tertentu harus dihadapkan dengan bukti yang menantang tantangan besar untuk mempertahankan perspektif sebelumnya diinvestasikan.
Dan memang pada praktiknya, segala sesuatu dapat dibuat sesuai dengan aturan, maka dapat dibuat juga bertentangan dengannya. Sebuah paradoks yang terus didialektikakan, selalu melahirkan batasan, dan disonansi kognisi. Lalu, salahkah pada aturan dalam bahasa yang telah dibuat dan dengan demikian adanya?
Sebenarnya, di sini adalah terkait dengan interpretasi. Sebab bahasa akan dan harus terkait dengan makna. Itulah bahasan ini tidak kunjung selesai. Dan itulah juga David Stern, kemudian menyebut pandangan Wittgenstein awal tentang logika, bahasa, metode "atomisme logistik" dan "holisme praktis", kemudian dirangkum menjadi "holisme logistik". Antara atomisme logistik dan holisme praktis memudahkan jurang pemisah yang drastis, jurang tentang persepsi dan pemahaman.
Oleh karena itu, dan tanpa klaim sebagai kesimpulan, menyimpulkan sebagai transisi komprehensif yang menuju pada pandangan "antropologis" yang terus berkembang dan berkembang, sehingga diskusi-diskusi yang berhubungan dengan objektivitas vs subjektivitas, konsepsi vs persepsi, dan psikologi vs epistemologi terus juga berjalan.
Itulah alasan mengapa bahasa dan permainannya menjadi sarat konteks antropologis serta otomatisasi universalisme dogmatik dan perilaku formalistik di berbagai aspek.
Seperti contoh; kita semua mencari kunci rahasia menuju kebahagiaan, dimana hal itu adalah satu-satunya hal yang benar-benar yang akan mewujudkan keinginan-keinginan kita dalam hidup. Pandangan yang rahasia adalah persepsi dan bahasa "bahagia" adalah intepretasi penuh bias; yang mungkin di dalamnya tersimpan disjungsi, paradoksial, dan visi yang masih belum jelas.
Contoh yang lebih konkrit yang akan saya sampaikan daripada bertele-tele menjelaskan seperti di atas adalah tentang "cinta-benci" atau kasih sayang-kebencian. Di mana kita sering mematerialkan (salah satu cara bermain) di sebuah bahasa ke dalam praktik antropologis. Bisa dengan memaknainya sebagai perbedaan materi, sehingga bahasa love and hate adalah jika kita merasa bahagia secara intepretatif itu sedang dalam kasih sayang. Sedangkan ketika konflik menjadi bagian dari kebencian.
Itulah alasan mengapa abad 20 itu Wittgenstein memaparkan "investigasi" secara filosofis dalam permainan bahasa yang menjadi terapan. Dalam hal ini mungkin bingung, cinta-hate, sebaliknya, materi, melainkan prinsipal, yang setelah diinvestigasi tersimpan hal yang berasal dari intepretasi abs taks terkait dengan bagaimana kita bulat memaknainya sebagai hal yang tidak terkait dan konflik atau mengecewakan, melainkan kecerdasan penalaran kita bisa memutuskan keputusan untuk mengambil resiko tetap konsisten atau sebaliknya, inkonsistensi. Inilah permainan. [k]



No comments:
Post a Comment