Bagi saya, tak ada yang lebih penting dalam hidup beragama dan berbangsa kini adalah memasung suatu hal di kepala saya, bahwa al-Qur'an dan ideologi lima sila itu bukan buku pedoman dan jalan untuk sebuah perusakan, kekacauan dan sifat brutal.
Brutal berbeda dengan anarkis, terlepas dari keyakinan makna dan definisi. Anarkis dijelaskan ensiklopedi sebagai ideologi tanpa pemerintahan. Dalam artian sebagaimana Godwin, keadilan dan kesetaraan itu akan susah melalui pemerintah.
Orang-orang Samin melalui 'disobey' nya yang tidak mau membayar pajak, Samin berideologi tapi tak melepaskan diri menjadi manusia yang melangkahkan kaki bersama manusia, hanya mengisolasi dari pemerintahan. Ajaran Samin tak mau merusak.
Sedang, Brutalis pun lahir bersama kesepakatan. Bicara kemajuan dan katanya belajar dari sejarah untuk masa depan. Berjalan seperti menganggap dirinya manusia dan bagian dari pemerintahan berbicara kemajuan dan politik.
Brutalis bukan lagi adjektiva individu di sepanjang perjalanan dan jalannya sejarah bangsa kini. Lepas dari adjectiva menjadi verba yang menggoyang visi "merdeka untuk".
Perkumpulan brutal tumbuh subur bersama intrik yang dianutnya. Bahkan kini kita sedang diberi tontonan, atau bahkan bagian dari mengalami suatu zaman dimana benci dan kekerasan menjadi iklan yang renyah dimakan.
Di simbol-simbol kemajuan zaman, setiap hari kita dipertontonkan kepalsuan yang diamini jadi yang benar. Yang semuanya lahir dari pertandingan perebutan.
Ayat 60 dari Surat Al-Anfal dipakai dimana-mana, ditampilkan sebagai iklan untuk menghimpun dan ajakan pesta surga. Namun sayangnya, selanjutnya perintah Allah itu dijadikan kekuatan dan mendatangkan rasa takut ke hati musuh pertandingannya.
Begitu kiranya wajah bangsa yang diisi para brutalis. Soal visi kemerdekaan tidak lagi tepat untuk dibincangkan karena akan dipaksa ditutupi adjectiva brutal
Terntang cinta di bumi pertiwi ini yang pernah menjadi sejarah adalah saat ingin keluar dari penjajahan dan beberapa waktu setelah perebutan kata "merdeka dari". Durruti pernah bilang, "Terkadang cinta hanya dapat berbicara melalui selongsong senapan."
Ya, kita ikuti bersama perjalanan ini. Toh umur kita tidak sampai satu abad lamanya.
Pernah ada analisa bahwa peradaban ini ada hubungannya dengan Socrates yang mengajari bertanya untuk tahu dari ketidaktahuan. Namun setelah tahu, ego, ambisi, dan kebinatangan bukan hanya satu orang. Tapi seriang diri dari bagian sosial sangan rentan untuk brutal.




