Thursday, 6 December 2018

Brutal



Bagi saya, tak ada yang lebih penting dalam hidup beragama dan berbangsa kini adalah memasung suatu hal di kepala saya, bahwa al-Qur'an dan ideologi lima sila itu bukan buku pedoman dan jalan untuk sebuah perusakan, kekacauan dan sifat brutal.

Brutal berbeda dengan anarkis, terlepas dari keyakinan makna dan definisi. Anarkis dijelaskan ensiklopedi sebagai ideologi tanpa pemerintahan. Dalam artian sebagaimana Godwin, keadilan dan kesetaraan itu akan susah melalui pemerintah.

Orang-orang Samin melalui 'disobey' nya yang tidak mau membayar pajak, Samin berideologi tapi tak melepaskan diri menjadi manusia yang melangkahkan kaki bersama manusia, hanya mengisolasi dari pemerintahan. Ajaran Samin tak mau merusak.

Sedang, Brutalis pun lahir bersama kesepakatan. Bicara kemajuan dan katanya belajar dari sejarah untuk masa depan. Berjalan seperti menganggap dirinya manusia dan bagian dari pemerintahan berbicara kemajuan dan politik.

Brutalis bukan lagi adjektiva individu di sepanjang perjalanan dan jalannya sejarah bangsa kini. Lepas dari adjectiva menjadi verba yang menggoyang visi "merdeka untuk".

Perkumpulan brutal tumbuh subur bersama intrik yang dianutnya. Bahkan kini kita sedang diberi tontonan, atau bahkan bagian dari mengalami suatu zaman dimana benci dan kekerasan menjadi iklan yang renyah dimakan.

Di simbol-simbol kemajuan zaman, setiap hari kita dipertontonkan kepalsuan yang diamini jadi yang benar. Yang semuanya lahir dari pertandingan perebutan.

Ayat 60 dari Surat Al-Anfal dipakai dimana-mana, ditampilkan sebagai iklan untuk menghimpun dan ajakan pesta surga. Namun sayangnya, selanjutnya perintah Allah itu dijadikan kekuatan dan mendatangkan rasa takut ke hati musuh pertandingannya.

Begitu kiranya wajah bangsa yang diisi para brutalis. Soal visi kemerdekaan tidak lagi tepat untuk dibincangkan karena akan dipaksa ditutupi adjectiva brutal

Terntang cinta di bumi pertiwi ini yang pernah menjadi sejarah adalah saat ingin keluar dari penjajahan dan beberapa waktu setelah perebutan kata "merdeka dari". Durruti pernah bilang, "Terkadang cinta hanya dapat berbicara melalui selongsong senapan."

Ya, kita ikuti bersama perjalanan ini. Toh umur kita tidak sampai satu abad lamanya.

Pernah ada analisa bahwa peradaban ini ada hubungannya dengan Socrates yang mengajari bertanya untuk tahu dari ketidaktahuan. Namun setelah tahu, ego, ambisi, dan kebinatangan bukan hanya satu orang. Tapi seriang diri dari bagian sosial sangan rentan untuk brutal.

Wednesday, 5 December 2018

Ayo!



Ayo! tapi yang bukan 'ayo' lirik lagu dan rayu belaka. Tapi 'Ayo' pada yang tak terbatas.

Chairil si binatang jalang itu jasadnya telah terkubur di usianya yang ke 26 tahun. Tapi suaranya masih ada di lembah-lembah dan langit negeri yang lahir dari darah yang ada di ujung runcing bambu hampir seabad lalu.

Chairil terlalu berani membuat perjanjian dengan Bung Karno. Tapi Chairil memang seperti tak kenal 'cemas' pada 'hari'. Hari yang dengan esok akan ada cerita yang beda dengan hari ini.

Chairil muda pernah larut dalam Api dan laut Soekarno 1948 tiga tahun setelah merdeka. Sehingga ia membuat perjanjian di dalam puisinya;

Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji 
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu dipanggang diatas apimu, digarami lautmu 
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945 
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu 
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat 
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar 
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak dan berlabuh

(1948)

Chairil telah menjadi Chairil hingga kini. Dan "Ayo!" apinya masih membara dan lautnya masih abadi dengan garang ombaknya usia muda Chairil dalam membaca hari.

Bicara tentang sikap dan api di dalamnya seperti Chairil dan Bung Karno, menarik juga untuk membaca simbol yang terlihat tak sempurna tapi berani bersikap yang tidak sederhana. Gus Dur, kita sama-sama mengenalnya.

Gus Dur menjangkau, melintasi gerbang dan pagar, jadi tak berhingga, untuk menjabat tangan mere­ka yang diasingkan di luar meski di dalam itu. Bisa ditarik kemungkinan bahwa ini tentang kecil atau besarnya api iman.

Iman bagi Gus Dur bukanlah sebuah benteng-benteng kokoh dan tertutup, yang dilengkapi senjata, untuk menangkis segala hal yang diasumsikan sebagai musuh.

Iman bagi Gus Dur adalah sebuah obor yang dibawa di dalam pendakian dan gelap jalanan. Sebagai suluh adalah tatkala seorang yang beriman tak takut menemui yang berbeda dan yang tak terduga.

Gus Dur berani membawa obor di lapangan yang sekian lama haram untuk dipasang lampu. Gus Dur seperti berkata; Ayo! jangan buta! sebab Islam datang sebagai jalan dan penerang.

"Ayo!" Chairil, Bung Karno, Gus Dur bukan main-main. Dan kini, kita sedang hidup bersama suara "Ayo!" tapi ternyata itu ajakan jual beli dan tentang komoditi. Entah kemana "Ayo!" tiga orang tanpa batas itu kini sembunyi.

Ayo Chairil, Bung, Gus, bagaimana kalau kita buat perjanjian?

Dewi


Dewi telah terbawa diri terbang ke Jepang, dengan bukan menjadi seperti Dewi yang dikenal orang. Dewi harus memutus sayap puja pujinya untuk membela suaminya, Bung Karno putra sang fajar.

Hari terakhir bulan September dan tragedi zaman itu telah terjadi. Bung Karno si putra sang fajar kelimpungan. Dan pidato-pidatonya tidak lagi menjadi mantra-mantra sakti di telinga bangsanya. Sukarno harus bersalah dan diasingkan.

Ratna Sari Dewi, Geisha berparas menawan asal Jepang yang diperistri pemimpin besar revolusi itu telah benar-benar melakukan upaya rekonsiliasi politik untuk konflik suaminya dengan Jendral Angkatan Darat.

Aiko Kurasawa, penulis asal Jepang itu bercerita kalau Dewi menemui Perdana Menteri Sato pada 6 Januari 1966 untuk meminta dukungan bagi suaminya. Namun, Jepang memutuskan untuk berada di sisi Jendral.

Usaha demi usaha dilakukan. Tapi zaman telah menentukan ceritanya sendiri tanpa bisa dimakan buas pidato Bung Karno yang bak Singa.


20 Maret 1966, Dewi bermain golf dengan lawan suaminya, Jendral Suharto. Sang Jendral menawarkan tiga opsi untuk nasib suaminya.

Pertama, pergi ke luar negeri untuk beristirahat. Kedua, tetap tinggal sebagai presiden sebulan saja. Ketiga, mengundurkan diri secara total.

Jendral Suharto merekomendasikan opsi pertama untuk bisa dipilih untuk peristirahatan putra sang fajar. Jepang dan Mekkah menjadi opsi negara pilihan. Dewi sadar seketika bahwa ia dan suaminya telah kalah setelah perundingan dengan Jendral di lapangan golf itu.

Tahun-tahun itu adalah manifestasi untuk Dewi. Sebagai bukti Dewi sang First Lady yang cantik menawan itu pun bisa melawan.

Dan Jendral besar yang akhirnya 30 tahun selanjutnya menjadi raja pertiwi dipaksa oleh keadaan untuk mengakui kekuatan wanita mantan Geisha.

Dewi dan usaha rekonsiliasi. Semut akan marah kalau kaki akan menginjaknya. Semut berani melawan Gajah. Dewi tidak bisa dilihat sebelah mata sebagai bunga saja.


Monday, 3 December 2018

Makna


"Terserang sindrom rasa cemas kepada makna, karena makna tak dikuasai lagi."

Bahwa pernah ada hiperbola seperti itu. Sehingga semakin kesini, kata menjadi lebih rumit dari angka di rumus matematika. Belum lagi bicara kalimat.

Datang benar waktunya, yang menyebutnya "dewasa" kadang yang terbaca hanya "dewa" saja. Semua tangan bisa menuliskan kata dan kalimat. disebarkan menjadi perang menjadi api.

Awal Desember pun tiba. Hujan bulan ini pun masing terngiang di lagu-lagu indie merdu di telinga di pagi buta. Dan yang menarik di dunia kata, koran-koran di negeri serba kesepakatan diserang dengan kalimat pertanyaan "mengapa ada sebuah maklumat yang dihadiri jutaan massa tidak jadi headline?".

Kita sedang duduk di panggung suka dan tidak suka. yang di dalamnya telah pula disepakati perserikatan yang punya aturan dan kuasa-atas-besok seperti apa dibawah baju kepentingannya.

Saat diblow up bahwa "Pers independent" seharusnya tahu bahwa itu dialog era 60-an. Toh yang blow up sadar atau tidak adalah bagian dari perserikatan suka dan tidak suka dibalik payung kesepakatan.

Rasa-rasanya pengen tertawa saja. Lalu jika sampai perserikatan koran-koran diserang dalam hal headline, entah amnesia atau apa. Tak perlu lagi ditulis ulang kata kunci "barisan angka 0" bukan?

Seorang penulis sedang menulis di negeri tawar menawar dan kesepakan setiap pukul 6 pagi setelah mata lelah membaca hari melalui kalimat yang sedikit berlebihan, mencoba meyakinkan diri dan pembacanya bahwa bahasa harus diberi tenaga ekstra, agar sedikit kembali berarti. Berharap tak jadi ambisi.