Wednesday, 5 December 2018

Dewi


Dewi telah terbawa diri terbang ke Jepang, dengan bukan menjadi seperti Dewi yang dikenal orang. Dewi harus memutus sayap puja pujinya untuk membela suaminya, Bung Karno putra sang fajar.

Hari terakhir bulan September dan tragedi zaman itu telah terjadi. Bung Karno si putra sang fajar kelimpungan. Dan pidato-pidatonya tidak lagi menjadi mantra-mantra sakti di telinga bangsanya. Sukarno harus bersalah dan diasingkan.

Ratna Sari Dewi, Geisha berparas menawan asal Jepang yang diperistri pemimpin besar revolusi itu telah benar-benar melakukan upaya rekonsiliasi politik untuk konflik suaminya dengan Jendral Angkatan Darat.

Aiko Kurasawa, penulis asal Jepang itu bercerita kalau Dewi menemui Perdana Menteri Sato pada 6 Januari 1966 untuk meminta dukungan bagi suaminya. Namun, Jepang memutuskan untuk berada di sisi Jendral.

Usaha demi usaha dilakukan. Tapi zaman telah menentukan ceritanya sendiri tanpa bisa dimakan buas pidato Bung Karno yang bak Singa.


20 Maret 1966, Dewi bermain golf dengan lawan suaminya, Jendral Suharto. Sang Jendral menawarkan tiga opsi untuk nasib suaminya.

Pertama, pergi ke luar negeri untuk beristirahat. Kedua, tetap tinggal sebagai presiden sebulan saja. Ketiga, mengundurkan diri secara total.

Jendral Suharto merekomendasikan opsi pertama untuk bisa dipilih untuk peristirahatan putra sang fajar. Jepang dan Mekkah menjadi opsi negara pilihan. Dewi sadar seketika bahwa ia dan suaminya telah kalah setelah perundingan dengan Jendral di lapangan golf itu.

Tahun-tahun itu adalah manifestasi untuk Dewi. Sebagai bukti Dewi sang First Lady yang cantik menawan itu pun bisa melawan.

Dan Jendral besar yang akhirnya 30 tahun selanjutnya menjadi raja pertiwi dipaksa oleh keadaan untuk mengakui kekuatan wanita mantan Geisha.

Dewi dan usaha rekonsiliasi. Semut akan marah kalau kaki akan menginjaknya. Semut berani melawan Gajah. Dewi tidak bisa dilihat sebelah mata sebagai bunga saja.


No comments:

Post a Comment