"Terserang sindrom rasa cemas kepada makna, karena makna tak dikuasai lagi."
Bahwa pernah ada hiperbola seperti itu. Sehingga semakin kesini, kata menjadi lebih rumit dari angka di rumus matematika. Belum lagi bicara kalimat.
Datang benar waktunya, yang menyebutnya "dewasa" kadang yang terbaca hanya "dewa" saja. Semua tangan bisa menuliskan kata dan kalimat. disebarkan menjadi perang menjadi api.
Awal Desember pun tiba. Hujan bulan ini pun masing terngiang di lagu-lagu indie merdu di telinga di pagi buta. Dan yang menarik di dunia kata, koran-koran di negeri serba kesepakatan diserang dengan kalimat pertanyaan "mengapa ada sebuah maklumat yang dihadiri jutaan massa tidak jadi headline?".
Kita sedang duduk di panggung suka dan tidak suka. yang di dalamnya telah pula disepakati perserikatan yang punya aturan dan kuasa-atas-besok seperti apa dibawah baju kepentingannya.
Saat diblow up bahwa "Pers independent" seharusnya tahu bahwa itu dialog era 60-an. Toh yang blow up sadar atau tidak adalah bagian dari perserikatan suka dan tidak suka dibalik payung kesepakatan.
Rasa-rasanya pengen tertawa saja. Lalu jika sampai perserikatan koran-koran diserang dalam hal headline, entah amnesia atau apa. Tak perlu lagi ditulis ulang kata kunci "barisan angka 0" bukan?
Seorang penulis sedang menulis di negeri tawar menawar dan kesepakan setiap pukul 6 pagi setelah mata lelah membaca hari melalui kalimat yang sedikit berlebihan, mencoba meyakinkan diri dan pembacanya bahwa bahasa harus diberi tenaga ekstra, agar sedikit kembali berarti. Berharap tak jadi ambisi.

No comments:
Post a Comment